Ketika cahaya kesadaran datang menghampiri, begitu dalam sesal yang menggumpal didalam hati. Teringat akan lembaran masa lalu yang kelam tentang orang-orang yang pernah kita sakiti, tentang prilaku diri yang begitu sering melakukan kekhilafan, tentang bakti kita kepada kedua orang tua yang belum kita sempurnakan, tentang cela dan aib diri yang belum sempat kita mohonkan ampunan dan tentang seluruh perjalanan hidup yang hanya diselimuti oleh dusta dan kebencian. Telah begitu panjang perjalan yang kita lalui tanpa kita sadari telah begitu banyak kita menorehkan tinta hitam dalam sejarah kehidupan kita.
Sungguh kalaulah kita mahu jujur terhadap diri ini, betapa sedikit ketaatan kita kepada-Nya dan begitu sering kita khianati segala kenikmatan yang diberikannya.. Tampaknya kita harus bertanya kepada diri ini. Mengapa hati begitu keras menyatu hingga kebenaran tak jua menyatu? mengapa diri ini begitu bodoh dan tak jua menyadari, padahal begitu nampak didepan kita hamparan keMaha besaran Allah s.w.t.yang tak tertandingi oleh apapun? rasanya tak pantas diri ini selalu mengharapkan kebaikannya, dimana disaat lain begitu sering kita menampakkan kejelekan kita. Rasanya tak pantas kita memohonkan ampun, ketika disaat yang sama kita melakukan kemaksiatan. Dan rasanya tak pantas kita menjadi hamba pilihan sedangkan segala perintahnya tak jua tergerak untuk kita laksanakan.
wahai teman...
Setiap tapak kaki kita yang tertinggal sesungguhnya adalah saksi dari perjalanan hari-hari. Hanya orang bodohlah yang membiarkan hari-harinya tersia-siakan dengan kebathilan dan hanya orang-orang jahillah yang membiarkan waktu hidupnya tercampakkan dengan kelengahan.
Kita sering mengira bahwa kita telah banyak melakukan kebaikan. Selama ini kita menduga seakan telah sempurna melakukan ketaatan. Merasa begitu banyak menjalankan kewajiban. Tetapi semua itu hanyalah fatamorgana. Nampak begitu baik dalam persangkaan ternyata begitu buruk dalam pandangan Allah s.w.t. Mengapa demikian? Karena ketaatan yang kita kerjakan hanyalah sebatas menginginkan pujian dan kebaikan yang kita tunjukkan tidak kita iringi dengan ke ikhlasan.
Renungan nasihat umar bin khattab. R.a:
Hisablah diri kalian sebelum dihisab! Timbanglah diri kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukkan yang agung! Dihari itu kalian dihadapkan kepada pemeriksaan.tiada yang tersembunyi dari amal perbuatan kita walau satupun.
wahai teman...
Mari kita bangun sesuatu yang telah kita robohkan, bersihkan aqidah kita yang telah tercemar dengan kemusyrikan. Jernihkan niat dan tekad yang telah kita keruhkan dengan ketidakikhlasan. Manfaatkan hidup ini selagi masih terbuka pintu harapan. Tegurlah jiwa kita yang terlena agar tetap menjadi hamba yang mulia.
الله أكبر، واغفر لي ولأصدقائي
الله أكبر، واغفر لي ولأصدقائي



1 comments:
penuh keinsafan menghayati entry ini...
malu dan takut berhdapan dgn-Nya dgn amaln masih yg tdk ckup buat bekalan dunia dan akhrat...
sme2 kte mndambakan kpd-Nya dgn pnuh keikhlasan semata2 inginkn keampunan dan kerahmatan-Nya dalam khidupan..Insya-Allah...
Post a Comment